Dharma Caruban

Dharma Caruban dalam konteks persiapan Pujawali (Piodalan) di Pura umumnya merujuk pada salah satu dari dua hal, yaitu naskah sastra suci mengenai tata cara menyiapkan hidangan suci (banten) atau rangkaian upacara penyucian.

admin

5/5/20261 min read

Dharma Caruban dalam konteks persiapan Pujawali (Piodalan) di Pura umumnya merujuk pada salah satu dari dua hal, yaitu naskah sastra suci mengenai tata cara menyiapkan hidangan suci (banten) atau rangkaian upacara penyucian.

Berikut adalah penjabaran detailnya:

  • Sastra/Panduan Kuliner Suci (Ngebat): Dharma Caruban adalah naskah yang berisi tuntunan mengenai keanekaragaman resep makanan tradisional Bali yang digunakan khusus untuk sesajen atau banten. Dalam persiapan Pujawali, naskah ini menjadi panduan dalam Ngebat, yaitu proses meracik, memasak, dan menata bahan-bahan makanan suci yang akan dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

  • Bagian dari Ritual Caru (Penyucian): Secara praktis, "Dharma Caruban" seringkali dipahami sebagai rangkaian kegiatan Mecaru (Bhuta Yadnya) menjelang piodalan. Ini merupakan bagian dari persiapan untuk membersihkan area pura dari energi negatif sebelum bhatara menstanakan diri, memastikan lingkungan suci dan seimbang.

Inti Kegiatan Dharma Caruban dalam Persiapan Pujawali:

  • Mecaru: Melaksanakan upacara penyucian area pura.

  • Ngolah Banten: Menyiapkan sarana sesajen yang berlandaskan aturan sastra (Dharma Caruban).

  • Gotong Royong (Ngayah): Umat Hindu bersama-sama menyiapkan sarana ini sebagai bentuk wujud bakti dan syukur.

Jadi, kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan keharmonisan (sekala dan niskala) agar upacara Pujawali dapat berjalan dengan lancar, suci, dan khidmat.